Sunday, 15 December 2013


Dapat diketahui bahwa sejarah berdirinya pendidikan formal yang ada di Indonesia pada mulanya merupakan warisan dari era kolonial belanda yang di gagas pada awal abad 18. Pada pertengahan abad 18, pendidikan di Indonesia yang ketika itu masih dalam kendali belanda hanya di peruntuhkan untuk anak keturunan belanda dan Indonesia-belanda saja. Dikarenakan kerajaan belanda pada waktu itu masih mengalami krisis keuangan. Kemudian, saat akan berakhirnya tanam paksa  (cultuurstelsel) pada tahun 1870-an  oleh kolonial Belanda di Nusantara Indonesia dengan keuntungan yang besar di peroleh, Belanda segera memunculkan sikap politik etis, dimana kerajaan Belanda akan lebih melegalitaskan penduduk pribumi dengan cara mendirikan sekolah-sekolah untuk anak-anak  pribumi Indonesia demi terwujudnya kesejahteraan. Sikap tersebut diutarakan langsung oleh raja Belanda “Van Deventer” dalam pidatonya pada tahun 1901 (Baca: Sejarah Pendidikan Indonesia.). Namun disisi lain, maksud didirikannya sekolah-sekolah tersebut sejak tahun 1870 adalah untuk mendidik anak-anak Indonesia sehingga nantinya mereka bisa dipekerjakan sebagai pegawai rendahan demi kemajuan perusahaan pemerintah kolonial Belanda .
Sedikit kutipan sejarah di atas mendeskripsikan bahwa pendidikan di tanah air ini dijadikan sebuah alat untuk menghasilkan individu-individu  berpengetahuan standar agar mudah diatur menjadi seorang pegawai rendahan (karyawan/buruh). Dan  bukanlah menjadi seorang manusia yang kreatif dan inovatif. Maka bukan hal yang mengejutkan lagi apabila mental-mental buruh, pegawai dan karyawan masih begitu melekat dibenak masyarakat di era sekarang. Sampai-sampai ada sebagian kalangan yang  rela mengeluarkan sekocek uang dengan jumlah yang besar demi jabatan pegawai pemerintah (PNS) yang saat itu setara dengan pegawai rendahan yang di janjikan oleh pemerintah kolonial belanda. Apa sebenarnya yang salah dengan sistem pendidikan dan masyarakat di Indonesia pada era sekarang? Ini pertanyaan mungkin menjadi boomerang pada diri kita masing-masing. Jika kita melihat sistem pendidikan sekarang, sudah pasti lebih sistematis dibandingkan dengan era kolonial. Saat ini jenjang pendidikan lebih teratur mulai dari SD,SMP,SMA/SMK sampai ke Perguruan Tinggi. Kalau memang sistem pendidikan kita sudah baik, mengapa masih banyak lulusan pendidikan formal yang kebingungan mencari pekerjaan? Bahkan setelah mendapatkan jabatan dalam pemerintahan, tidak sedikit yang berulah melakukan korupsi.
Masyarakat perlu disadarkan bahwa pendidikan bukan alat untuk menjadikan sesseorang menjadi pegawai pemerintahan, mencari pekerjaan, dan mencari gelar semata. Akan tetapi pendidikan seharusnya ditempuh karena kesadaran akan pentingnya sebuah ilmu untuk memecahkan sebuah persoalan hidup. Sehingga manusia-manusia terdidik akan menyesuaikan mencari dan menemukan sesuatu hal yang baru untuk solusi persoalan hidupnya. Dengan begitu mereka mampu membentuk dirinya menjadi manusia yang terampil, kreatif dan inovatif.

0 comments :

Post a Comment