Dapat
diketahui bahwa sejarah berdirinya pendidikan formal yang ada di Indonesia pada
mulanya merupakan warisan dari era kolonial belanda yang di gagas pada awal
abad 18. Pada pertengahan abad 18, pendidikan di Indonesia yang ketika itu masih dalam kendali belanda hanya di
peruntuhkan untuk anak keturunan belanda dan Indonesia-belanda saja.
Dikarenakan kerajaan belanda pada waktu itu masih mengalami krisis keuangan.
Kemudian, saat akan berakhirnya tanam paksa
(cultuurstelsel) pada tahun 1870-an oleh
kolonial Belanda di Nusantara Indonesia dengan keuntungan yang besar di
peroleh, Belanda segera memunculkan sikap politik etis, dimana kerajaan Belanda akan lebih
melegalitaskan penduduk pribumi dengan cara mendirikan sekolah-sekolah
untuk anak-anak pribumi Indonesia demi terwujudnya kesejahteraan. Sikap tersebut diutarakan langsung oleh raja Belanda “Van Deventer” dalam pidatonya pada tahun 1901
(Baca: Sejarah Pendidikan Indonesia.). Namun disisi lain, maksud didirikannya
sekolah-sekolah tersebut sejak tahun 1870 adalah untuk mendidik anak-anak
Indonesia sehingga nantinya mereka bisa dipekerjakan sebagai pegawai rendahan demi kemajuan perusahaan pemerintah kolonial
Belanda .
Sedikit
kutipan sejarah di atas mendeskripsikan bahwa pendidikan di tanah air ini dijadikan sebuah alat untuk menghasilkan individu-individu berpengetahuan standar agar mudah diatur menjadi seorang pegawai rendahan (karyawan/buruh). Dan bukanlah menjadi seorang manusia yang kreatif dan inovatif. Maka bukan hal yang mengejutkan lagi apabila mental-mental buruh, pegawai dan karyawan masih begitu melekat dibenak masyarakat di era sekarang. Sampai-sampai ada sebagian kalangan yang rela mengeluarkan sekocek uang dengan jumlah yang besar demi jabatan pegawai pemerintah (PNS) yang saat itu setara dengan pegawai rendahan yang di janjikan oleh pemerintah kolonial belanda. Apa sebenarnya yang
salah dengan sistem pendidikan dan masyarakat di Indonesia pada era sekarang?
Ini pertanyaan mungkin menjadi boomerang pada diri kita masing-masing.
Jika kita melihat sistem pendidikan sekarang, sudah pasti lebih sistematis
dibandingkan dengan era kolonial. Saat ini jenjang pendidikan lebih teratur
mulai dari SD,SMP,SMA/SMK sampai ke Perguruan Tinggi. Kalau memang sistem
pendidikan kita sudah baik, mengapa masih banyak lulusan pendidikan formal yang
kebingungan mencari pekerjaan? Bahkan setelah mendapatkan jabatan dalam
pemerintahan, tidak sedikit yang berulah melakukan korupsi.
Masyarakat
perlu disadarkan bahwa pendidikan bukan alat untuk menjadikan sesseorang
menjadi pegawai
pemerintahan, mencari pekerjaan, dan mencari gelar semata. Akan tetapi
pendidikan seharusnya ditempuh karena kesadaran akan pentingnya sebuah ilmu
untuk memecahkan sebuah persoalan hidup. Sehingga manusia-manusia terdidik akan
menyesuaikan mencari dan menemukan sesuatu hal yang baru untuk solusi persoalan hidupnya. Dengan begitu mereka mampu membentuk dirinya menjadi manusia yang terampil,
kreatif dan inovatif.
17:28
maemedsone@blogger.blogspot.com
0 comments :
Post a Comment