Saturday, 14 December 2013

              Anda jangan heran, jika ada orang Amerika Serikat hidup di Indonesia dan berkerja untuk orang AS. Anda jangan heran, jika ada orang Singapura hidup di Indonesia dan berkerja untuk orang Singapura. Anda baru boleh heran dengan orang Indonesia! hidup di Indonesia tapi berkerja untuk orang Amerika. (Rieke Diah Pitaloka.2010.Aktivis Buruh, Anggota DPR RI).

 Dewasa ini sepertinya kolonialisme di Indonesia telah berbeda dengan dahulu kala, kolonialisme di Indonesia saat ini telah bermetamorfosa menjadi bentuk yang lebih hanif dan dihormati.  Jika pada era Soekarno waktu itu para pemudanya sangat bersemangat untuk menghentikan kolonialisme, maka pada hari ini mereka para pemuda menjadi entitas kolonialisme itu sendiri. Kolonialisme atau dehumanisasi yang meruntuhkan tatanan masyarakat pada waktu itu membuat bangsa kita bodoh sehingga tidak segera mengentaskan diri untuk merdeka, hal ini tidak boleh berulang kembali di era kemerdekaan dengan variasi bentuk rengkarnasinya karena implikasi di bidang ekonomi, sosial, budaya dan politik waktu itu sudah mengerikan, meninggalkan trauma dan mendistorsikan karakter bangsa.
Di bidang Ekonomi pada saat itu sumber daya alam negara ini di ambil begitu saja tanpa ada simbiosis bagi pihak bangsa kita, mungkin karena memang pada era itu negara Indonesia belum merdeka, apalagi untuk  diakui oleh bangsa penjajah dan bangsa lain. Dibidang sosial, adanya romusha (kerja paksa) dari tahun (1880-1919) yang dilakukan oleh penjajah yang pastinya tidak lepas dari penyiksaan-penyiksaan. Pendidikan, pembodohan melalui larangan mengikuti pendidikan di lembaga pendidikan, pendidikan hanya untuk putra elit tertentu. Bidang Politik, kekuasaan yang di pegang oleh bangsa penjajah membuat bangsa Indonesia tak berdaya untuk melawan semua yang dilakukan oleh penjajah pada daerah jajahannya yang saat ini terintegrasi menjadi NKRI.
Tetapi dengan semangat pemuda (ini yang membedakan pemuda dulu dan sekarang) yang di awali dari seorang pemuda lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) bidang Arsitektur yang akrab di panggil Bung Karno, pada waktu itu bisa mendongkrak semangat pemuda di daerah-daerah jajahan lain hingga akhirnya bangsa Indonesia pun bangkit atas penindasan bangsa penjajah dan keluar dari kolonialisme bangsa Londo. Kemudian bersama M. Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 agustus 1945 .
Hari ini biarpun usia kemerdekaan Indonesia sudah menginjak 68 tahun kolonialisme masih berkecongkol di bumi pertiwi ini, terbukti bangsa Indonesia masih mengalami kolonialisme baik dari bangsa sendiri maupun bangsa lain dengan variatif bentuk.
Kolonialisme yang dilakukan pemimpin negara ini adalah sesuatu hal yang tidak pantas dilakukan olehnya, sebab esensialnya ia adalah entitas rakyat yang sama dengan rakyat biasa. Perbedaanya ia hanya perwakilan yang diusung oleh rakyat sebagai representasi himpunan keinginan yang terakomodir, sedangkan rakyat adalah objek yang diakomodir.  Tindakan korupsi yang ada hari ini berimplikasi menjadikan bangsa Indonesia semakin terpuruk terutama dari aspek politik, lokal, nasional dan internasional. Politik hanya digunakan untuk tempat “perselingkuhan”, artinya politik hanya menjadi perahu layar yang digunakan untuk menuju kandang sapi perah (APBD/N), politik digunakan sebagai alat untuk memperkaya diri sendiri tanpa mempedulikan kondisi bangsa hari ini.
Melalui berbagai kepentingan banyak orang mencalonkan diri untuk menjadi pejabat politis atau pemimpin tanpa ada alur yang jelas mengenai kaderisasi politik yang dilaluinya, hal ini yang membuat para politisi di negeri ini minim idealisme dan condong pragmatis-oportunis. Tidak jauh-jauh tujuan mereka pasti jika terpilih nanti hanya ingin memuaskan kebutuhan perut, melalui cara-cara konservatif yang umum masyarakat kenal yakni bermain kleptokrasi. Bila tujuannya sudah individualis cara yang digunakan dalam pencalonan itupun tidak jauh-jauh dari praktek manipulasi politik karena pasti kepentingan pribadi tujuannya. Jika perbuatan memalukan yang dilakukan oleh para pemimpin itu tetap terjadi terus menerus pada bangsa ini maka implikasi masyarakat miskin, busung lapar, mencari pekerjaan susah, bekerja hanya dengan upah minimal dan tidak adanya kesejahteraan rakyat itu semua adalah masalah fundamental yang tidak akan kunjung terealisasikan di dalam Negeri ini bila kondisi ini tetap dibiarkan.
Dalam aspek ekonomi melaui penanaman modal oleh investor asing dengan kontrak yang sangat lama menyebabkan banyak kerugian pada bangsa ini, terutama kerugian pada terporsirnya tenaga kerja dan hancurnya pelestarian lingkungan hidup.Kalau kita baca teliti peraturan presiden No 77/tahun 2007 itu kita akan tidak percaya dengan apa yang kita baca saya yakin memang pemerintah kita sudah lupa, alpa, dan keliru untuk tidak mengatakan sudah keblinger. Dalam bagian c. Kepemilikan Modal dalam peraturan presiden itu, Indonesia di jual habis habisan seperti sektor Energi dan Sunber daya Mineral, pihak asing di per boleh kan memiliki 95%(sembilan puluh lima persen). (Amin Rais.2008:210). Contoh mudahnya kita dapat melihat di Papua, perusahaan Freeport milik Amerika Serikat dengan kontrak yang seolah tiada akhir sangat memporsir SDM, mereka merasa dijadikan kelinci mainan di rumah mereka sendiri. Begitu juga dengan SDA yang ada terkuras habis dan memiliki segudang implikasinya yang sangat merugikan bagi kelangsungan anak cucu mereka.
 Beberapa hal di atas adalah sebagian kecil bentuk kolonialisme yang terjadi dalam bangsa ini yang ternyata masih bercongkol di bumi yang kita cintai, pemeran utamanya ternyata tidak hanya orang asing tapi juga bangsa sendiri. Kondisi seperti ini harus disadari oleh seluruh pemuda di negeri ini tanpa terkecuali.  dengan seperti itu akan muncul gerakan – gerkan pemuda dalam bentuk kemandirian yang akan menjadi jati diri bangsa. Jadi pastilah jika bangsa ini terlihat mandiri akan banyak  organisasi-organisasi pemuda seperti karang taruna di pedesaan menjadi ujung tombak kemandirian bangsa dengan kegiatan-kegiatan yang produktif  dan berkontibusi dalam kesejahteraan desa seperti mengelola usaha mandiri di bidang pertania,perikanan, koperasi desa dan lainya (selayaknya komoditas di desanya). kemudian komunitas ibu rumah tangga yang di binanya dalam upaya pembentukan home industri dengan produk yang tak kalah mutunya dengan industri makro.
Kemandirian bangsa ini harus menyentuh berbagai aspek baik sosial, budaya, ekonomi, pendidikan dan poitik. Terutama kepada aspek-aspek yang mengalami kolonialisasi modern. Pertama, kemandirian sosial, budaya dan ekonomi merupakan hal yang akan menampilkan  awal mula kemandirian itu mulai terbentuk atau mulai tumbuh. Wujud dari timbulnya kemandirian sosial dan budaya ini terlihat dari gaya hidup masyarakat dan bangsa Indonesia sendiri. Gaya hidup tersebut meliputi lebih di sukainya produk asli dalam negeri dari pada luar negeri oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Sehingga hasil produk-produk dalam negeri baik dari perusahaan makro atau mikro banyak di konsumsi oleh masyarakatnya sendiri. Dari situlah nantinya strategi mempertahankan, mengembangkan dan melindungi pasar domestik akan tercapai dan hal tersebut merupakan bagian dari ekonomi kerakyatan. kedua Pendidikan dan politik, indeks prestasi peningkatan SDA di pengaruhi oleh tingkatan jenjang pendidikan dan jenjang pendidikan berpengaruh terhadap sukses tidaknya sosialisai kemandirian bangsa kepada masyarakat. Semakin tinggi jenjang pendidikannya semakin tinggi pula indeks peningkatannya. Anis baswedan mengatakan bahwa seratus tahun lagi masyarakat Indonesia belum lulus SMA semua karena berbagai banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut. Pernyataan tersebut adalah ungkapan untuk sistem pendidikan sekarang yang tak jelas arah dan sasaranya terlalu ber kutat pada mekanisme pembelajaran. Padahal di balik permasalahan tersebut ada masalah yang fundamental yaitu filtrasi tenaga pendidik atau kualitas guru. Jika tenaga pendidik di Indonesia terjamin mutunya maka akan jadi mudah mewujudkan pelajar-pelajar yang sama kualitasnya, pelajar-pelajar yang mengikuti kemauan bangsanya untuk mandiri, pelajar-pelajar yang cinta dengan tanah air, pelajar-pelajar paham dengan kondisi bangsanya, pelajar-pelajar yang lulus kemudian menjadi penerus pemimpin bangsa yang merakyat dan tidak mau menjual aset negara ke orang asing. Sehingga wujud mencerdaskan kehidupan bangsa tak akan jadi mimpi semata. Kekuasaan atau jabatan menjadi kursi pengabdian utntuk mensejahterakan bangsa. Bukan untuk kepentingan partai politiknya atau dirinya. Justru di partai politik itu tempat orang-orang melatih atau menempa dirinya dengan tujuan menggapai calon pemimipin yang siap dan cerdas dalam menghadapi situasi dan kemaslahatan bangsa.
Itulah unsur-unsur yang kita rasa bisa mewujudkan kemandirian bangsa yang selayaknya kita dengungkan agar bangsa kita tidak jauh tertingggal oleh bangsa-bangsa lain baik dari segi apapun. Dengan menghentikan kolonialisme modern dan menasionalisasikan aset bangsa. Kita juga harus banyak mencontoh negara-negara yang sukses dengan kemandiriannya seperti korea, jepang, turki, dan cina. Karena kelak Indonesia bisa  menjadi macan asia yang sepertinya pernah kita dengar.





Refrensi
Suryanegara, Ahmad Mansur. Api Sejarah dan Api Sejarah 2.2012.Bandung:Salamadani
Djody, Setiawan.2009. Reformasi dan Elemen – Elemen Revolusi.Jakarta:Eleks Media Koputindo
Rais, M. Amin.2008.Selamatkan Indonesia.Yogyakarta:PPSK Peres

0 comments :

Post a Comment