Anda
jangan heran, jika ada orang Amerika
Serikat
hidup di Indonesia dan berkerja untuk orang AS. Anda jangan heran, jika ada orang
Singapura hidup di Indonesia dan berkerja untuk orang Singapura. Anda baru
boleh heran dengan orang Indonesia! hidup di Indonesia tapi berkerja untuk orang
Amerika. (Rieke
Diah Pitaloka.2010.Aktivis
Buruh, Anggota DPR RI).
Dewasa ini sepertinya kolonialisme di Indonesia telah berbeda dengan dahulu kala, kolonialisme di Indonesia saat ini telah bermetamorfosa menjadi bentuk yang lebih hanif dan dihormati. Jika pada era Soekarno waktu itu para pemudanya sangat bersemangat untuk menghentikan kolonialisme, maka pada hari ini mereka para pemuda menjadi entitas kolonialisme itu sendiri. Kolonialisme atau dehumanisasi yang meruntuhkan tatanan masyarakat pada waktu itu membuat bangsa kita bodoh sehingga tidak segera mengentaskan diri untuk merdeka, hal ini tidak boleh berulang kembali di era kemerdekaan dengan variasi bentuk rengkarnasinya karena implikasi di bidang ekonomi, sosial, budaya dan politik waktu itu sudah mengerikan, meninggalkan trauma dan mendistorsikan karakter bangsa.
Dewasa ini sepertinya kolonialisme di Indonesia telah berbeda dengan dahulu kala, kolonialisme di Indonesia saat ini telah bermetamorfosa menjadi bentuk yang lebih hanif dan dihormati. Jika pada era Soekarno waktu itu para pemudanya sangat bersemangat untuk menghentikan kolonialisme, maka pada hari ini mereka para pemuda menjadi entitas kolonialisme itu sendiri. Kolonialisme atau dehumanisasi yang meruntuhkan tatanan masyarakat pada waktu itu membuat bangsa kita bodoh sehingga tidak segera mengentaskan diri untuk merdeka, hal ini tidak boleh berulang kembali di era kemerdekaan dengan variasi bentuk rengkarnasinya karena implikasi di bidang ekonomi, sosial, budaya dan politik waktu itu sudah mengerikan, meninggalkan trauma dan mendistorsikan karakter bangsa.
Di
bidang Ekonomi pada saat itu sumber daya alam negara ini di ambil begitu saja
tanpa ada simbiosis bagi pihak bangsa kita, mungkin karena memang pada era itu
negara Indonesia belum merdeka, apalagi untuk
diakui oleh bangsa penjajah dan bangsa lain. Dibidang sosial, adanya romusha (kerja paksa) dari tahun (1880-1919) yang dilakukan
oleh penjajah yang pastinya tidak lepas dari penyiksaan-penyiksaan. Pendidikan,
pembodohan melalui larangan mengikuti pendidikan di lembaga pendidikan,
pendidikan hanya untuk putra elit tertentu. Bidang Politik, kekuasaan yang di
pegang oleh bangsa penjajah membuat bangsa Indonesia tak berdaya untuk melawan
semua yang dilakukan oleh penjajah pada daerah jajahannya yang saat ini
terintegrasi menjadi NKRI.
Tetapi
dengan semangat pemuda (ini yang membedakan pemuda dulu dan sekarang) yang di
awali dari seorang pemuda lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) bidang
Arsitektur yang akrab di panggil Bung Karno, pada waktu itu bisa mendongkrak
semangat pemuda di daerah-daerah jajahan lain hingga akhirnya bangsa Indonesia
pun bangkit atas penindasan bangsa penjajah dan keluar dari kolonialisme bangsa
Londo. Kemudian
bersama M. Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia sebagai Negara Kesatuan
Republik Indonesia pada tanggal
17 agustus 1945 .
Hari
ini biarpun usia kemerdekaan Indonesia sudah menginjak 68 tahun kolonialisme
masih berkecongkol di bumi pertiwi ini, terbukti bangsa Indonesia masih
mengalami kolonialisme baik dari bangsa sendiri maupun bangsa lain dengan
variatif bentuk.
Kolonialisme
yang dilakukan pemimpin negara ini adalah sesuatu hal yang tidak pantas
dilakukan olehnya, sebab esensialnya ia adalah entitas rakyat yang sama dengan
rakyat biasa. Perbedaanya ia hanya perwakilan yang diusung oleh rakyat sebagai
representasi himpunan keinginan yang terakomodir, sedangkan rakyat adalah objek
yang diakomodir. Tindakan korupsi yang
ada hari ini berimplikasi menjadikan bangsa Indonesia semakin terpuruk terutama
dari aspek politik, lokal,
nasional dan internasional. Politik hanya digunakan untuk tempat
“perselingkuhan”, artinya politik hanya menjadi perahu layar yang digunakan
untuk menuju kandang sapi perah (APBD/N), politik digunakan sebagai alat untuk
memperkaya diri sendiri tanpa mempedulikan kondisi bangsa hari ini.
Melalui
berbagai kepentingan banyak orang mencalonkan diri untuk menjadi pejabat
politis atau pemimpin tanpa ada alur yang jelas mengenai kaderisasi politik
yang dilaluinya, hal ini yang membuat para politisi di negeri ini minim idealisme
dan condong pragmatis-oportunis. Tidak jauh-jauh tujuan mereka pasti jika
terpilih nanti hanya ingin memuaskan kebutuhan perut, melalui cara-cara
konservatif yang umum masyarakat kenal yakni bermain kleptokrasi. Bila
tujuannya sudah individualis cara yang digunakan dalam pencalonan itupun tidak
jauh-jauh dari praktek manipulasi politik karena pasti kepentingan pribadi
tujuannya. Jika perbuatan memalukan yang dilakukan oleh para pemimpin itu tetap
terjadi terus menerus pada bangsa ini maka implikasi masyarakat miskin, busung
lapar, mencari pekerjaan susah, bekerja hanya dengan upah minimal dan tidak
adanya kesejahteraan rakyat itu semua adalah masalah fundamental yang tidak
akan kunjung terealisasikan di dalam Negeri ini bila kondisi ini tetap dibiarkan.
Dalam
aspek ekonomi melaui penanaman modal oleh investor asing dengan kontrak yang
sangat lama menyebabkan banyak kerugian pada bangsa ini, terutama kerugian pada
terporsirnya tenaga kerja dan hancurnya pelestarian lingkungan hidup.Kalau kita baca teliti peraturan presiden No 77/tahun
2007 itu kita akan tidak percaya dengan apa yang kita baca saya yakin memang
pemerintah kita sudah lupa, alpa, dan keliru untuk tidak mengatakan sudah
keblinger. Dalam bagian c. Kepemilikan Modal dalam peraturan presiden itu,
Indonesia di jual habis habisan seperti sektor Energi dan Sunber daya Mineral,
pihak asing di per boleh kan memiliki 95%(sembilan puluh lima persen). (Amin Rais.2008:210). Contoh mudahnya kita dapat melihat
di Papua, perusahaan Freeport milik Amerika Serikat dengan kontrak yang seolah
tiada akhir sangat memporsir SDM, mereka merasa dijadikan kelinci mainan di
rumah mereka sendiri. Begitu juga dengan SDA yang ada terkuras habis dan
memiliki segudang implikasinya yang sangat merugikan bagi kelangsungan
anak cucu mereka.
Beberapa hal di atas adalah sebagian kecil
bentuk kolonialisme yang terjadi dalam bangsa ini yang ternyata masih
bercongkol di bumi yang kita cintai, pemeran utamanya ternyata tidak hanya
orang asing tapi juga bangsa sendiri. Kondisi seperti ini harus disadari oleh
seluruh pemuda di negeri ini tanpa terkecuali. dengan seperti itu akan muncul
gerakan – gerkan pemuda dalam bentuk kemandirian yang akan menjadi jati diri
bangsa. Jadi pastilah jika bangsa ini
terlihat mandiri akan banyak organisasi-organisasi
pemuda seperti karang taruna di pedesaan menjadi ujung tombak kemandirian
bangsa dengan kegiatan-kegiatan yang produktif
dan berkontibusi dalam kesejahteraan desa seperti mengelola usaha
mandiri di bidang pertania,perikanan, koperasi desa dan lainya (selayaknya
komoditas di desanya). kemudian komunitas ibu rumah tangga yang di binanya
dalam upaya pembentukan home industri dengan produk yang tak kalah
mutunya dengan industri makro.
Kemandirian
bangsa ini harus menyentuh berbagai aspek baik sosial, budaya, ekonomi,
pendidikan dan poitik. Terutama kepada aspek-aspek yang mengalami kolonialisasi modern. Pertama, kemandirian sosial, budaya dan ekonomi merupakan hal yang akan menampilkan
awal mula kemandirian itu mulai terbentuk atau mulai tumbuh. Wujud dari
timbulnya kemandirian sosial dan budaya ini terlihat dari gaya hidup masyarakat
dan bangsa Indonesia sendiri. Gaya hidup tersebut meliputi lebih di sukainya
produk asli dalam negeri
dari pada luar negeri oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sehingga hasil produk-produk
dalam negeri baik dari perusahaan makro atau mikro banyak di konsumsi oleh masyarakatnya sendiri. Dari situlah nantinya strategi mempertahankan,
mengembangkan dan melindungi pasar domestik akan tercapai dan hal tersebut
merupakan bagian dari ekonomi kerakyatan. kedua Pendidikan dan politik, indeks
prestasi peningkatan SDA di pengaruhi oleh tingkatan jenjang pendidikan dan
jenjang pendidikan berpengaruh terhadap sukses tidaknya sosialisai kemandirian
bangsa kepada masyarakat. Semakin tinggi jenjang pendidikannya semakin tinggi
pula indeks peningkatannya. Anis baswedan mengatakan bahwa seratus tahun lagi
masyarakat Indonesia belum lulus SMA semua karena berbagai banyak faktor yang
menyebabkan hal tersebut. Pernyataan tersebut adalah ungkapan untuk sistem
pendidikan sekarang yang tak jelas arah dan sasaranya terlalu ber kutat pada
mekanisme pembelajaran. Padahal di balik permasalahan tersebut ada masalah yang
fundamental yaitu filtrasi tenaga pendidik atau kualitas guru. Jika tenaga
pendidik di Indonesia terjamin mutunya maka akan jadi mudah mewujudkan
pelajar-pelajar yang sama kualitasnya, pelajar-pelajar yang mengikuti kemauan
bangsanya untuk mandiri, pelajar-pelajar yang cinta dengan tanah air,
pelajar-pelajar paham dengan kondisi bangsanya, pelajar-pelajar yang lulus
kemudian menjadi penerus pemimpin bangsa yang merakyat dan tidak mau menjual
aset negara ke orang asing. Sehingga wujud mencerdaskan kehidupan bangsa tak
akan jadi mimpi semata. Kekuasaan atau jabatan menjadi kursi pengabdian utntuk
mensejahterakan bangsa. Bukan untuk kepentingan partai politiknya atau dirinya.
Justru di partai politik itu tempat orang-orang melatih atau menempa dirinya
dengan tujuan menggapai calon pemimipin yang siap dan cerdas dalam menghadapi
situasi dan kemaslahatan bangsa.
Itulah unsur-unsur yang kita rasa bisa mewujudkan
kemandirian bangsa yang selayaknya kita dengungkan agar bangsa kita tidak jauh
tertingggal oleh bangsa-bangsa lain baik dari segi apapun. Dengan menghentikan
kolonialisme modern dan menasionalisasikan aset bangsa. Kita juga harus banyak
mencontoh negara-negara yang sukses dengan kemandiriannya seperti korea,
jepang, turki, dan cina. Karena kelak Indonesia bisa menjadi macan asia yang sepertinya pernah
kita dengar.
Refrensi
Suryanegara, Ahmad Mansur. Api Sejarah dan
Api Sejarah 2.2012.Bandung:Salamadani
Djody, Setiawan.2009. Reformasi dan Elemen
– Elemen Revolusi.Jakarta:Eleks Media Koputindo
Rais, M. Amin.2008.Selamatkan Indonesia.Yogyakarta:PPSK
Peres
17:08
maemedsone@blogger.blogspot.com
0 comments :
Post a Comment